Masjid Menara Kampung Melayu

Your rating: None Average: 4.2 (5 votes)

Jika Anda berkunjung ke Semarang dan gemar mengunjungi tempat bersejarah maka Masjid Layur atau juga biasa di sebut Masjid Menara Kampung Melayu adalah salah satu lokasi yang layak di kunjungi. Usianya yang sudah lebih dari dua abad menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Semarang.

Masjid Menara

Cukup mudah untuk menemukan lokasi masjid tua ini. Dari arah Pasar Johar mengikuti jalur putar yang menuju arah Stasiun Tawang. Dari rel kereta api di depan Jalan Layur, menara masjid sudah bisa terlihat dari kejauhan. Lokasi perkampungan masjid di sebut Kampung Melayu karena dahulu kawasan tersebut mayoritas dihuni oleh masyarakat ras Melayu

Masjid Menara dibangun tahun 1802 oleh ulama Arab Hadramaut (Yaman). Bentuk dan struktur bangunan masjid adalah bangunan dua lantai, atap berbentuk meru (pengaruh Demak). Lantai masjid menggunakan material kayu, pondasi menggunakan umpak batu bata dengan kedalaman tiga meter dan lebar satu meter.

Hal yang unik dari masjid ini adalah bentuk bangunan yang kental dengan bangunan arsitektur gaya Timur Tengah. Hal tersebut tampak pada menara yang berdiri kokoh di depan pintu masuk masjid. Adapun bangunan utama masjid bergaya khas Jawa dengan atap masjid susun tiga.

Dari gaya arsitekturnya, Masjid Menara merupakan percampuran dari tiga budaya yakni, Jawa, Melayu, dan Arab. Dari segi keasliannya, Masjid Menara masih seperti pertama kali dibuat. Hanya ada sedikit perbaikan dan penggantian pada bagian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola di sisi kanan masjid.

Bangunan induk dan menara masjid mengalami transformasi bentuk, karena adanya pengurukan lantai sekitar dua ratus centimeter. Bangunan induk masjid di lantai satu, tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah, maka pada lantai dua terdapat perluasan ruangan yaitu di sisi timur laut dan tenggara.

Konstruksi dan detail masjid masih asli dan terawat dengan baik. Biaya perawatan masjid diperoleh dari bangunan - bangunan yang diwakafkan untuk kepentingan masjid.

Selain bentuk bangunan yang unik, Masjid Menara juga menyimpan harta lain yang tak ternilai, yaitu kitab - kitab kuno, yang konon dibawa oleh para habib untuk menyebarkan agama Islam di Semarang sekitar pada abad 18. Kitab - kitab tersebut masih menggunakan bahasa dan tulisan Arab asli dan dibacakan pada acara - acara khusus. Kitab tersebut hanya boleh dibaca dan didengar oleh kalangan Islam ortodok

Hingga saat ini, masjid yang sudah berusia lebih dari dua abad ini masih berdiri kokoh dan berfungsi sebagai tempat ibadah. Ancaman serius bangunan masjid ini berupa banjir dan rob yang sering terjadi di kawasan Kampung Melayu.