Menikmati Eksotika Budaya Tionghoa di Pecinan

Your rating: None Average: 4.2 (11 votes)

Memasuki kawasan di sekitar Gang Lombok ibarat memasuki negeri Tirai Bambu dengan skala mini. Disinilah warga keturunan Tionghoa sejak berabad-abad silam menetap di Semarang. Kawasan ini kemudian lebih di kenal Kampung Pecinan. Di Pecinan sangat kental dengan budaya Tionghoa. Hampir di setiap gang terdapat klenteng yang masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri.


Terdapat 11 klenteng besar di Semarang, 10 di antaranya berada di kawasan Pecinan, yaitu Klenteng Hoo Hok Bio, Siu Hok Bio, Tay Kak Sie, Kong Tik Soe, Tong Pek Bio, Liong Tek Hay Bio, Hok Bio, See Hoo Kong, Wie Wie Kiong, dan Klenteng Grajen. Sedang Klenteng Sam Poo Kong berada di Gedung Batu. Masing-masing klenteng itu mempunyai nilai historis tersendiri.

Di samping menyimpan legenda Cheng Ho, Klenteng Sam Poo Kong juga dikunjungi masyarakat lintas agama. Di klenteng ini diyakini tersimpan kemudi dan jangkar kapal Cheng Ho yang digunakan pada waktu berlayar ke Pulau Jawa pada awal abad ke-15.

Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, merupakan klenteng induk seluruh klenteng di Semarang. Nama klenteng yang menyiratkan napas Budhisme ini menjadi simbol heroisme etnis Cina di Semarang. Selain menjadi monumen perlawanan masyarakat Cina terhadap penjajahan, klenteng ini juga menjadi simbol perlawanan masyarakat Cina terhadap ketamakan saudagar Yahudi yang dulu menguasai Klenteng Sam Poo Kong.

Klenteng Siu Hok Bio di Jalan Wotgandul Timur merupakan klenteng tertua di kawasan pecinan Semarang. Klenteng ini didirikan tahun 1753 sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diterima oleh penduduk sekitar Cap Kauw King. Klenteng ini masih mempunyai warisan yang berusia tua berupa cincin pegangan pintu dan ukiran pada ambang atas pintu klenteng.

Klenteng Wie Wie Kiong di Jalan Sebandaran I merupakan klenteng terbesar di kawasan pecinan. Klenteng ini memiliki kolam hias di atrium depannya yang menjadi simbol bahwa semua masalah ada solusinya. Keunikan klenteng ini berupa patung manusia yang bentuknya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Eropa.

Satu lagi klenteng di Jalan Sebandaran I adalah Klenteng See Hoo Kiong. Berbeda dengan klenteng lain yang memuja dewa-dewi, klenteng ini memuja Dewa Pedang. Keunikan klenteng ini adalah memiliki sumur yang terletak di halaman depan yang menurut legendanya merupakan tempat ditemukannya pedang.

SALAH satu klenteng besar yang merupakan klenteng marga adalah Klenteng Tek Hay Bio. Tek Hay Bio diartikan sebagai Kuil Penenang Samudera sehingga klenteng ini disebut juga sebagai Klenteng Samudera Indonesia. Hal ini dijabarkan dalam bentuk ornamen dengan dominasi unsur laut. Klenteng yang berada di Jalan Gang Pinggir ini milik marga Kwee. 

Selain menikmati keindahan klenteng yang berumur ratusan tahun, kita juga bisa menikmati suasana kehidupan masyarakat Tionghoa yang masih menjunjung tinggi tradisi. Kawasan ini terasa makin hidup saat malam hari menjelang peringatan Imlek. Banyak ornamen dan hiasan khas Cina terpasang rapi disepanjang gang-gang dan halaman rumah warga. Belum lagi masakan khas Cina yang mengundang selera bisa dinikmati di beberapa rumah makan yang ada di kawasan ini.

Mengunjungi Pecinan seakan mengunjungi negeri Cina lengkap dengan tradisi, masakan dan kehidupan sosial warganya. Sebuah lokasi yang sulit dilewatkan jika mengunjungi Semarang